Untukmu kutitipkan sebuah nama,
Tercekat rasa amarah tersisipi duka.
Tercekat rasa amarah tersisipi duka.
Dia, yang ku kasihi tak kian kembali,.
Tak tau rimbanya atau hanya tak mau mengerti.
Ah, apalah ini, kepayahan,
Ah, apalah ini, kepayahan,
Sungguh, menyikat dinding hati, membuatku lelah.
Seonggok rasa sakit membekas,
Mencecap dan memecah relung ironi.
Mencecap dan memecah relung ironi.
Apakah semua hanya ilusi yang dapat berevolusi?
Seperti bumi yang berotasi,
Seperti waktu yang berdetak di dada.
Semua mengalun terjadi hingga tak merasa karena terbiasa.
Tapi denting nadi kadang masih terbalut asa,
Meski tetap berbaris lurus tak mau mengiba.
Seperti waktu yang berdetak di dada.
Semua mengalun terjadi hingga tak merasa karena terbiasa.
Tapi denting nadi kadang masih terbalut asa,
Meski tetap berbaris lurus tak mau mengiba.
Kau yang kukasihi, tak lagi berbalas kata, berdinding kekecewaan.
Bentengilah dirimu, hingga hatimu merasa nyaman,
Selama itu, sampai akhirmu.
Dan di akhir cerita, taukah kau? suatu hari takdir akan bicara.
alrahe
Bentengilah dirimu, hingga hatimu merasa nyaman,
Selama itu, sampai akhirmu.
Dan di akhir cerita, taukah kau? suatu hari takdir akan bicara.
alrahe