Minggu, 24 Mei 2015

tiap manusia yang masuk dalam kehidupanmu mengajarimu sesuatu.

Pertanyaannya, apakah kau merasa nyaman ataukah bahagia?

Apakah bintang di mendungmu itu aku? atau GP? Karena sebuah rahasia tidak bisa bersembunyi dari waktu. Aku terlalu sibuk dengan duniaku, menilai orang dari sudut pandangku sehingga aku lupa dan terbutakan. Dorongan dari mereka yang mencintaiku menyuruhku untuk segera bahagia, tapi bolehkah ku ulangi lagi pertanyaanku? letak bahagia dariku di mata mereka itu dimana?

Aku terpojok ketika kau menamparkan senyummu, membuatku terheran, ini sebenarnya simpul palsu atau nyata? Sehingga sekali waktu aku bersifat bodoh dan sesekali impulsif karena aku masih ragu. Dan benar, ikuti kata hatimu. karna aku tak pernah bisa melihat matamu, menelan kepribadianmu. Mungkin aku salah, karena aku yang memulai perkara ini, dengan menjadi penggoda yang berdosa.

Aku hanya seorang pendosa, tapi aku tetap ingin melihat sang fajar tiap kali kubuka mata. Aku terdiam sedih, bukan karena lelaki itu, tapi bagaimana harapan ibuku tersakiti jika aku memilih seseorang yang salah. Ibuku, yang tak pernah menua, dia yang selalu memindahkan kecantikannya di gurat keriputnya. Aku mencintainya. Meskipun jika aku bersedih, dan merasa dunia membenciku selalu ada tempatku pulang dipelukannya. Tapi membuatnya merasa sedih untuk tau? tidak, aku sudah dewasa untuk menjadi batu. Sudah cukup aku melihatnya termenung tersakiti oleh keegooisan yang merenggut bintangnya. Dan, jika mencintai seorang lelaki itu penting, aku telah mencintai seseorang lelaki. Aku mencintai lelaki yang nanti akhirnya dia akan menyerahkanku kepada lelaki lain. Ayah. Oh, aku tidak ingin sekalipun menyakiti hati mereka lagi, sekalipun. Yang ku inginkan hanyalah seorang lelaki yang bisa menyanjung mereka.

Dan terakhir kata, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih. Terimakasih Allah, you never really break my heart. Terimakasih Allah, i just smile when i know and see the truth, and my memory about people talking about him floating to my mind. thx curcolnya asti dulu.

Terimakasih Ibuku Ayahku, kalian hebat, aku lebih takut melukai hati kalian daripada aku terluka.

Dan Terimakasih RBA, untuk memberiku kata-kata indah, dan pada akhirnya aku menguntai kata darimu juga. Terimakasih untuk membuatku mengerti bahwa aku masih terlalu naif dan belum dewasa. Terimakasih karna akhirnya aku benar ini palsu :) Karena pada dasarnya aku selalu berfikir, bahwa manusia itu diciptakan dengan hati yang baik. Semoga setelah bertemu dengan sifatku, bisa merubah salah satu kita menjadi lebih baik. Bisa membuatmu dekat denganNya dan tidak melupakan kewajibanmu di pagi hari. Dengan mengurangi nikotinmu, bersaunalah :D Terimakasih, aku telah mengerti peranmu. aku tak membencimu, aku masih mau berteman denganmu, hanya saja jangan kau sakiti dia. Kau yang percaya akan karma, jangan kau sakiti dia, aku melihat dia sudah jatuh dalam genggamanmu.

*rba