Sabtu, 01 Agustus 2015

Kau terbangun lapar,
meski telah kau ikat sabukmu kencang-kencang.
Tapi perutmu yang tak terisi sejak mentari berpijar tak berdusta.
Hari ini keringat membasahi peluhmu tapi hasil tak kau dapatkan.
Hanya berujar nasib baik akan datang esok menjelang.
Apa daya kau hanya seorang renta tak memiliki tempat berlabuh.
Istrimu telah berpulang, anak-anakmu berpaling darimu.
Mungkin akibat kerasnya hati atau kedurhakaan pengaruh kemodern dunia.
Pukul 4 pagi, sayup-sayup terdengar suara adzan kau beranjak.
Menyeret daganganmu ke masjid, 
lelah, mereka tak lagi menyukai mainan dari bambu.
Di tempat wudhu, 
kau minum air banyak-banyak demi mengenyangkan perut.
Berdoa berharap keajaiban datang dan berkah menyertai langkahmu.
Tunggulah kesabaranmu akan berbuah manis, Tuhanmu slalu bersamamu.

alrahe
*saya lapar