Senin, 31 Agustus 2015

aku tidak tersakiti karna pengkhianatanmu.
aku tersakiti karna kepura-puraanmu dalam fitnahmu.
tapi kau memberiku banyak kata untuk kutulis perlahan.
bukan sebuah sajak hanya berupa guratan tulisan.
kau seorang pecinta dunia menipu mengagumi lukisannya
tapi dalam harimu kau letakkan dunia dihatimu, hampa.

alrahe
kau dan aku bertemu dalam waktu sementara.
saling mengisi kata, aku terpikat terpesona.

tapi waktu terlalu prematur untuk mengerti.
dunia menjadi labil dimataku menyerangku perlahan.
atau mungkin aku kekanakan kalah dengan keadaan.

aku dan semua masalahku yang tak kupahami.
dan kamu dengan hal di hatimu yang tak aku mengerti.
membuat bertahun-tahun kita bungkam tak saling menyapa.
perlahan-lahan rasa itu terbiarkan untuk terbiasa.

ketika kau ucap kau akan datang ke kotaku.
aku tak tahu, aku ingin bertatap muka, tapi aku...

mungkin itu ego atau mungkin karna keadaan yang tergesa.
aku ingin menjagamu sebagai teman, tak berharap suatu apa.
akupun sedang jatuh dari harapanku, terkhianati oleh kebodohanku.
pastinya aku menjadi di luar kendali ketika bertemu orang baru.

menginginkannya masuk di kehidupanku untuk segera menghapus sepi.
tapi aku hanya tak mau jatuh ke dalam ketidakpastian yang terencana lagi.
entah kau masih sendiri, entah hatimu sudah dimiliki, 
entahlah apa kau berubah, dan menjadi orang yang berbeda.
atau hal lebih buruk lagi kita akan kembali tak bertegur sapa.
siapalah aku berani berharap, pepatah mengajariku untuk menjadi bijaksana.

alrahe
a note for z

smile, it's not as hard as you think about. :)

Sabtu, 29 Agustus 2015

I remember,
You write me and sing me a song.
When singing for your beloved,
our soul is flowing inside those song.
But you're faking your feelings, it's awful.

Ke ujung dunia kau lalui
tapi ke tempat asal kau berlayar
tak mau kau datangi.

Banyak pertanyaan tak kumengerti, 
dan aku tahu akan kau cari simpul pembenaran diri.

Tempat manusia mengadu enggan kau langkahkan.
kau lelaki mengapa berat kau langkahkan kaki ke masjid?
ajaran apa yang kau berikan?
bahwa dunia itu lebih berharga?
apa eloknya pergi ke negeri sakura?
adakah surga kau temukan disana?
berbangga hati, otakmu itu pemberian siapa?
kalau bukan karna ibumu melahirkanmu kau ini apa?

tak kau fikir, bisa saja Tuhan menitipkanmu ke pengemis.
bersyukurlah, kau dilahirkan dari rahim ibumu.

Oh, kau ini sungguh hebat,
bahkan memutuskan tali yang kami jaga.
memenjarakan bintang-bintang yang menyinari hati bulanku.

Semoga Tuhan segera membuka mata dan hatimu.

alrahe
a note for a
Aku tidak takut sakit,
setiap kali aku hanya takut mati,
sedang amalku sempit dosaku berlipat,
bagiku sakit adalah akibat dari proses.

Begitu mudahnya,
Tuhan mematikan dan menghidupkanmu,
Dia menidurkanmu dan membangunkanmu.

Begitu mudahnya,
kau tergantikan oleh makhluk-makhluk sepertimu.

Begitu mengerikannya,
semua ini serasa seperti mimpi,
dan suatu hari kau bangun di tempat yang gelap,
dan tak ada teman disana bersamamu.

alrahe
Aku kamu dan dia hanya berada di tempat yang salah,
kau tempatkan kami di perasaanmu yang salah.

alrahe
a note for r

Kamis, 27 Agustus 2015

Tuhanmu itu baik,
Berulangkali kau mengkhianatinya
Tapi Dia masih memberimu nafas.
Berulangkali kau berbuat dosa,
Menipu mereka atas namaNya,
Dia masih memberimu rezeki.
Entah mengapa masih kau kejar dunia,
Entah mengapa masih kau palingkan mukamu dari shalat.
Kau ini sebenarnya terlalu pintar atau terlalu bodoh?
Kau tahu dosa akan mengarahkanmu pada neraka.
Tapi tetap kau indahkan peringatan itu.
Melangkahkan kaki ke luar duniamu kau banggakan.
Tapi mendengar panggilan masjid kau tutup kuping.
Entahlah apakah dunia semakin pintar menjerumuskan kita?
Ataukah nurani kita tertutup dengan penilaian orang?
Dengan lantang membenci setan, tapi diam-diam memujanya.
Kau pikul dunia dengan bahumu, sedangkan aku meletakkannya di tanganku.

alrahe

Rabu, 26 Agustus 2015

dua manusia yang tidak bisa move on.
pada terdistorsi dengan rasa penasaran ya?
yang mendua siapa, yang jadi kepo siapa?
yang bilang cukup siapa, yang meracau siapa?
capede -____-

Selasa, 25 Agustus 2015

Hai tuan, terkadang aku merindumu.
Tapi tak kuasa bertemu keangkuhanmu.
Hanya kuredam dalam sandiwara.
Meski tiap malam bulan mengejek mengedip mesra.
Kutulis namamu di langit, mungkin percuma.
Kita tak pernah memandang bagian langit yang sama.
Kau dan aku terbentang jarak berlapiskan ego kita.
Tak mengapa, bagiku cukuplah bertukar kata.
Mungkin aku sudah pasrah menyerah menjalani liku kehidupan.
Aku sudah tidak muda, tak lagi berharap dengan kepalsuan.

alrahe
a note for z